Sabtu, 23 Mei 2009

Bandung dan kebebasannya


Udah hampir setahun gw tinggal di kabupaten yang letaknya dekat dengan Bandung, Jatinangor. Jarak Bandung-Jatinangor kurang lebih satu jam. Bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum yang dinamakan damri. Gw disini yaa kuliah, jauh dari ortu. Menuntut ilmu sendirian di kota orang sama sekali ngga gampang. Untungnya, kendala bahasa bukan hal yang utama, hehe. Tapi culture shock gw adalah kebebasan.

banyak orang yang bilang Bandung itu begini..begituu...yang ceweknya gini..cowoknya gituu..gw bukan setuju dengan berita tersebut ataupun menepis berita dan rumor tersebut.
menurut gw hal itu salah satu pemicunya adalah kebebasan itu sendiri. Setelah lulus dari bangku SMA, mereka diberi kebebasan kuliah menuntut ilmu di luar kota bahkan sampai luar negeri tanpa pengawasan.
Inilah kesalaha orang tua yang terbesar. Mereka lupa bahkan sengaja tidak mengawasi anak-anaknya. Mereka pikir anak mereka cukup mandiri dalam bertindak dan memilih sesuatu yang baik dan buruk. Sayangnya? Tidak.

Banyak kasus yang mendukung gw ngomong kaya gini. Salah satu kosan teman gw pernah mengalami hal tersebut. Bahkan penjaga pun 'bisa' ditipu sama tindakan dan aksi demikian. Penjaga sering kecolongan, dan si doi (cowok) udah keluar dari kosan itu pagi".
Huff..gawat kan.
Ini lah lingkungan mahasiswa. Kelompok yang merasa sudah dewasa tapi belum cukup dewasa menyikapi hal-hal yang penting dan tidak.

Kalau pergi ke pusat-pusat perkotaan, contoh Dago, setia Budi, daerah mall", dll. Kalia akan sangat gampang menemukan cewe berpakain minim. Entah itu bispak atau tidak. Mereka merasa daerah tersebut bukan bagian dari Indonesia deui. Mungkin singapore atau Italy kali yaa..
Hot pans disepanjang jalan tanpa malu memamerkan paha mereka yang mungkin tidak mulus.
Jangankan di pusat perkotaan, daerah seputar kosan juga gitu kok! Pikir deh, apa yang terjadi kalo 'bentuk' tubuh mereka yang diumbar itu ga sengaja dilihat ma orang yang 'lagi kepengen'.
Gawaaaatt...gawaaattt...

Gw termasuk orang yang nomaden, alias pindah-pindah. Tapi, gw turunan minang karena 100% darah minang. tapi, ya itu tadi, karena keseringan pindah. Budaya gw gampang meyatu ke budaya" yang gw masukin. Gw terpengaruh jawa, sunda, bahkan batak.
Kota tempat gw tinggal terakhir ini adalah Bogor, dimana gw sebelum 'pindah' ke Bandung.
cukuppp kaget melihat suasana mojang Bandung nu geulis" pisan (cewek Bandung yang cantik" banget) tapi binal.
Bukan kasar. Tapi, begitu adanya.

Bukan berarti semua cewe Bandung kaya gitu kok. Pastinya, masih ada yang sopan, religious, dan kalem. Masih ada jenis" manusia yang masih mempunyai moral dan tanggung jawab yang begitu kuat pada Tuhannya ataupun orang tua nya. Carilah teman yang seperti itu. Membawamu dalam kebaikan dan dekat dengan Tuhan mu =)

Yang dibutuhkan untuk tetap bertahan di kota ini hanyalah prinsip keimanan kita dan tanggung jawab kita pada orang tua.

p.s: penulis juga ingin cepat keluar dari Bandung kok, tepatnya keluar dari Indonesia. Karena benar" pengen memperbaiki negeri sendiri. amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar