Minggu, 24 Mei 2009

banyak belajar..belajar banyaak...


Kegiatan Baksos menjadikan gw seorang mahasiswi yang hidup 'egois' menjadi sadar akan lingkunganya. Syukurnya, gw di berkahi sensitivitas terhadap rasa syukur. Itulah yang membuat gw (mungkin) menjadi sosok cewek yang ngga brutal yang kerjaannya cuma hura" dengan mobil" hasil gawe bokap and nyokap. alhamdulillah...

seorang anak membawa tas kotak berisi yoghurt dan si sandang di bahunya datang ke acara baksos kami. seorang anak laki dengan pakaian lusuh. dan dia berjualan yoghurt tersebut di kampus, kampus Unpad...hari minggu.
sekali lagi hari mingguu...entah siapa pembeli yoghurt anak itu yang dijual pada hari minggu di kampus..
Kami pun mengajaknya gabung di acara baksos kami menggambar kaos. dia terlihat gembira. Mulai lah kami menanyakan identitas dirinya, anak itu bernama Bejo. Dia baru kelas 2 SD, orang tuanya tidak bekerja. Sayangnya, nasib tidak seberuntung namanya.
Kami pun berusaha mencairkan suasana...
Bagaimanapun ini acara baksos, tentunya kita semua berada dalam satu tempat yang sama dengan tujuan yang sama.

Anak-anak tersebut sejumlah 10 orang terlihat bahagia mengikuti acara kitaa..
tampak dari senyum dan tawa mereka selama acara. Permainan yang kami berikan, hadiah, makanan yang kami berikan, seakan-akan memberikan sejumlah keringanan dalam mengangkat beban mereka.
Tidak ada yang lebih indah melihat orang lain bahagiaa...
itu yang gw rasaainn..

Saat gw mengantar mereka kembali ke sekolah sebagai rasa tanggung jawab dari kami panitia acara..
Mereka curhat ke gw kalo mereka seneng ikut kegiatan acara kaya gini, mereka seneng dapat makan, susu, kue, alat tulis...
Gw terharuu...dan siapapun yang mendengarnya pasti sediih
karena mereka bersyukur nasibnya tidak seperti anak-anak itu yang bingung saat harus bayar uang praktek, bingung kalo bukunya habis, bingung harus bayar uang praktek, bingung saat harus masuk SMP, dsb...
Mereka cerita kalo mereka harus bayar uang praktek renang 10rb, uang praktek masak 15rb...
mereka sediihh bangett
karena uang yang menurut kita itu hanya uang untuk sekali makan, mereka membutuhkannya untuk melanjutkan ujian akhir mereka untuk naik kelas...

banyaak banget pelajaran yang bisa diambil dari merekaa..
kesederhanaan mereka, gw juga teruss dan teruss belajar mensyukuri apa yang Allah kasih ke kita selama ini...

selama kita mau lihat sekitar
sekitar akan memberikan banyak ilmu untuk kebaikan dirimu...


Sabtu, 23 Mei 2009

Long Distance Relationship

Biasa disingkat LDR alias hubungan jarak jauh alias pacaran jarak jauh alias pacar jauh.

Ngga cuma satu-dua orang temen gw yang ngejalanin hubungan kaya gini. Banyak! Banyaaak!!
Salut dan hebat mereka dalam berkomitmen kaya gitu!
Ada yang cowoknya balik ke Indonesia dan dia masih studi di Jepang, ada juga yang ceweknya di Jatinangor cowoknya di Semarang, ada juga tipe kaya gw yang di Jatinangor cowoknya di Bandung. Emang siih deket, tapi kalo terjadi jarak di dalamnya bahkan mengakibatkan pertemuan hanya 1-2x dalam seminggu, tetep ajah namanya LDR ! walaupun ada yang lebih parah yang terpisahkan samudera alias beda benua.

Cewek yang selalu memainkan perasaan dalam segala tindakan (dalam hal ini logika berperan resesif ketimbang perasaan yang dominan) merasa kalau mereka butuh perhatian dan memiliki kerinduan yang amat sangat dengan pasangannya yang berbeda kelamin itu. Bahkan mereka lupa, kalau pasangannya merasakan demikian juga.
Keegoisan itulah yang memiliki persentasi terbesar untuk break, mending break disini istirahat, tetapi disini patah alias putus!

Kekhawatiran cewek yang berlebihan membuat cowok di kampung/kota/propinsi/negara/benua sebelah gerah. Cewek punya makna care, tapi cowok punya makna over. Pertama kali berpisah mungkin menjadikan mereka pangeran yang selalu diperhatikan. Lama-kelamaan dia juga gerah dan merasa seperti diuntit dukun yang pengen banget naro setan ditubuhnya alias ngga bisa lepas!

Give him/her trustness. Atau saling mempercayai. Tapi, kalian juga harus yakin kalo pasangan kalian punya sikap trust-worthyness (dapat dipercaya). Kepercayaan bagi gw hal yang paling penting, walaupun semuanya mendukung satu sama lain dan ngga bisa diabaikan. Kepercayaan elemen yang mendukung banget karena dengan kepercayaan lu ga perlu khawatir dengan pasangan kalian. Kalian percaya dengan pasangan kalian sepenuh hati. Sehingga ngga da lagi yang namanya negative thinking dari salah satu pihak.

Positive thinking mendukung aspek sebelumnya kepercayaan. Dengan pikiran positif kalian akan mempercayai pasangan kalian dengan ikhlas =)
Percaya deh, ngga ada hal yang lebih indah daripada memandang kebaikan. Capek tau mikirin hal-hal yang jelek mulu mana dapet dosa lagi ! hehe.

jadi, jangan percaya yaa LDR itu 98% FAILED
buktikan dong kalo kalian LDR-ers yang berkualitas..
jangan cuma kuantitas pertemuan doang yang banyak! =)

p.s : penulis jadi kangen ma masa SMA dimana ketemu tiap hari di kelas, hehe


Bandung dan kebebasannya


Udah hampir setahun gw tinggal di kabupaten yang letaknya dekat dengan Bandung, Jatinangor. Jarak Bandung-Jatinangor kurang lebih satu jam. Bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum yang dinamakan damri. Gw disini yaa kuliah, jauh dari ortu. Menuntut ilmu sendirian di kota orang sama sekali ngga gampang. Untungnya, kendala bahasa bukan hal yang utama, hehe. Tapi culture shock gw adalah kebebasan.

banyak orang yang bilang Bandung itu begini..begituu...yang ceweknya gini..cowoknya gituu..gw bukan setuju dengan berita tersebut ataupun menepis berita dan rumor tersebut.
menurut gw hal itu salah satu pemicunya adalah kebebasan itu sendiri. Setelah lulus dari bangku SMA, mereka diberi kebebasan kuliah menuntut ilmu di luar kota bahkan sampai luar negeri tanpa pengawasan.
Inilah kesalaha orang tua yang terbesar. Mereka lupa bahkan sengaja tidak mengawasi anak-anaknya. Mereka pikir anak mereka cukup mandiri dalam bertindak dan memilih sesuatu yang baik dan buruk. Sayangnya? Tidak.

Banyak kasus yang mendukung gw ngomong kaya gini. Salah satu kosan teman gw pernah mengalami hal tersebut. Bahkan penjaga pun 'bisa' ditipu sama tindakan dan aksi demikian. Penjaga sering kecolongan, dan si doi (cowok) udah keluar dari kosan itu pagi".
Huff..gawat kan.
Ini lah lingkungan mahasiswa. Kelompok yang merasa sudah dewasa tapi belum cukup dewasa menyikapi hal-hal yang penting dan tidak.

Kalau pergi ke pusat-pusat perkotaan, contoh Dago, setia Budi, daerah mall", dll. Kalia akan sangat gampang menemukan cewe berpakain minim. Entah itu bispak atau tidak. Mereka merasa daerah tersebut bukan bagian dari Indonesia deui. Mungkin singapore atau Italy kali yaa..
Hot pans disepanjang jalan tanpa malu memamerkan paha mereka yang mungkin tidak mulus.
Jangankan di pusat perkotaan, daerah seputar kosan juga gitu kok! Pikir deh, apa yang terjadi kalo 'bentuk' tubuh mereka yang diumbar itu ga sengaja dilihat ma orang yang 'lagi kepengen'.
Gawaaaatt...gawaaattt...

Gw termasuk orang yang nomaden, alias pindah-pindah. Tapi, gw turunan minang karena 100% darah minang. tapi, ya itu tadi, karena keseringan pindah. Budaya gw gampang meyatu ke budaya" yang gw masukin. Gw terpengaruh jawa, sunda, bahkan batak.
Kota tempat gw tinggal terakhir ini adalah Bogor, dimana gw sebelum 'pindah' ke Bandung.
cukuppp kaget melihat suasana mojang Bandung nu geulis" pisan (cewek Bandung yang cantik" banget) tapi binal.
Bukan kasar. Tapi, begitu adanya.

Bukan berarti semua cewe Bandung kaya gitu kok. Pastinya, masih ada yang sopan, religious, dan kalem. Masih ada jenis" manusia yang masih mempunyai moral dan tanggung jawab yang begitu kuat pada Tuhannya ataupun orang tua nya. Carilah teman yang seperti itu. Membawamu dalam kebaikan dan dekat dengan Tuhan mu =)

Yang dibutuhkan untuk tetap bertahan di kota ini hanyalah prinsip keimanan kita dan tanggung jawab kita pada orang tua.

p.s: penulis juga ingin cepat keluar dari Bandung kok, tepatnya keluar dari Indonesia. Karena benar" pengen memperbaiki negeri sendiri. amiin.